Berhari Raya Sesuai Tuntunan Rasulullah
March 26th, 2008/Fikih/28 Comments
Penulis: Ummu ‘Athiyah
Tiap tanggal 1 Syawal kita berhari raya ‘Iedul Fitri. Wahai Saudariku, ketahuilah bahwa hari raya ini merupakan rahmat Allah yang diberikan kepada umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Disebut ‘Ied karena pada hari itu Allah memberikan berbagai macam kebaikan yang kepada kita sebagai hambaNya. Diantara kebaikan itu adalah berbuka setelah adanya larangan makan dan minum selama bulan suci Romadhan dan kebaikan berupa diperintahkannya mengeluarkan zakat fitrah.
Para ulama telah menjelaskan tentang sunah-sunah Rasulullah yang berkaitan dengan hari raya, diantaranya:
1. Mandi pada hari raya.
Sa’id bin Al Musayyib berkata: “Sunah hari raya ‘idul Fitri ada tiga: berjalan menuju lapangan, makan sebelum keluar dan mandi.”
2. Berhias sebelum berangkat sholat ‘Iedul Fitri.
Disunahkan bagi laki-laki untuk membersihkan diri dan memakai pakaian terbaik yang dimilikinya, memakai minyak wangi dan bersiwak. Sedangkan bagi wanita tidak dianjurkan untuk berhias dengan mengenakan baju yang mewah dan menggunakan minyak wangi.
3. Makan sebelum sholat ‘Idul Fitri.
“Dari Anas RodhiyAllahu’anhu, ia berkata: Nabi sholAllahu ‘alaihi wa sallam tidak keluar rumah pada hari raya ‘Iedul fitri hingga makan beberapa kurma.” (HR. Bukhari). Menurut Ibnu Muhallab berkata bahwa hikmah makan sebelum sholat adalah agar jangan ada yang mengira bahwa harus tetap puasa hingga sholat ‘Ied.
4. Mengambil jalan yang berbeda saat berangkat dan pulang dari sholat ‘Ied.
Hal ini sebagaimana yang dilakukan Rasulullah, beliau mengambil jalan yang berbeda saat pulang dan perginya (HR. Bukhari), diantara hikmahnya adalah agar orang-orang yang lewat di jalan itu bisa memberikan salam kepada orang-orang yang tinggal disekitar jalan yang dilalui tersebut, dan memperlihatkan syi’ar islam.
5. Bertakbir.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat menunaikan sholat pada hari raya ‘ied, lalu beliau bertakbir sampai tiba tempat pelaksanaan sholat, bahkan sampai sholat akan dilaksanakan. Dalam hadits ini terkandung dalil disyari’atkannya takbir dengan suara lantang selama perjalanan menuju ke tempat pelaksanaan sholat. Tidak disyari’atkan takbir dengan suara keras yang dilakukan bersama-sama. Untuk waktu bertakbir saat Idul Fitri menurut pendapat yang paling kuat adalah setelah meninggalkan rumah pada pagi harinya.
6. Sholat ‘Ied.
Hukum sholat ‘ied adalah fardhu ‘ain, bagi setiap orang, karena Rosulululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa mengerjakan sholat ‘Ied. Sholat ‘Ied menggugurkan sholat jum’at, jika ‘Ied jatuh pada hari jum’at. Sesuatu yang wajib hanya bisa digugurkan oleh kewajiban yang lain (At Ta’liqat Ar Radhiyah, syaikh Al Albani, 1/380). Nabi menyuruh manusia untuk menghadirinya hingga para wanita yang haidh pun disuruh untuk datang ke tempat sholat, tetapi disyaratkan tidak mendekati tempat sholat. Selain itu Nabi juga menyuruh wanita yang tidak punya jilbab untuk dipinjami jilbab sehingga dia bisa mendatangi tempat sholat tersebut, hal ini menunjukkan bahwa hukum sholat ‘Ied adalah fardhu ‘ain.
Waktu Sholat ‘Ied adalah setelah terbitnya matahari setinggi tombak hingga tergelincirnya matahari (waktu Dhuha). Disunahkan untuk mengakhirkan sholat ‘Iedul Fitri, agar kaum muslimin memperoleh kesempatan untuk menunaikan zakat fitrah.
Disunahkan untuk mengerjakan di tanah lapang di luar pemukiman kaum muslimin, kecuali ada udzur (misalnya hujan, angin kencang) maka boleh dikerjakan di masjid.
Dari Jabir bin Samurah berkata: “Aku sering sholat dua hari raya bersama nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa adzan dan iqamat.” (HR. Muslim) dan tidak disunahkan sholat sunah sebelum dan sesudah sholat ‘ied, hal ini sebagaimana perkataan Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sholat hari raya dua raka’at. Tidak ada sholat sebelumnya dan setelahnya (HR. Bukhari: 9890)
Untuk Khutbah sholat ‘ied, maka tidak wajib untuk mendengarkannya, dibolehkan untuk meningggalkan tanah lapang seusai sholat. Khutbah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak dibuka dengan takbir, tapi dengan hamdalah, dan juga tanpa diselingi dengan takbir-takbir. Beliau berkutbah di tempat yang agak tinggi dan tidak menggunakan mimbar. Rasulullah berkutbah dua kali, satu untuk pria dan satu untuk wanita, ketika beliau mengira wanita tidak mendengar khutbahnya.
7. Ucapan selamat Hari Raya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanya tentang mengucapkan selamat pada hari raya dan beliau menjawab: “Adapun ucapan selamat pada hari raya ‘ied, sebagaimana ucapan sebagian mereka terhadap sebagian lainnya jika bertemu setelah sholat ‘ied yaitu: Taqabbalallahu minna wa minkum (semoga Allah menerima amal kami dan kalian) atau ahaalAllahu ‘alaika (Mudah-mudahan Allah memberi balasan kebaikan kepadamu) dan semisalnya.” Telah diriwayatkan dari sejumlah sahabat Nabi bahwa mereka biasa melakukan hal tersebut. Imam Ahmad dan lainnya juga membolehkan hal ini. Imam Ahmad berkata, “Saya tidak akan memulai seseorang dengan ucapan selamat ‘ied, Namun jika seseorang itu memulai maka saya akan menjawabnya.” Yang demikian itu karena menjawab salam adalah sesuatu yang wajib dan memberikan ucapan bukan termasuk sunah yang diperintahkan dan juga tidak ada larangannya. Barangsiapa yang melakukannya maka ada contohnya dan bagi yang tidak mengerjakannya juga ada contohnya (Majmu’ al-Fatawaa, 24/253). Ucapan hari raya ini diucapkan hanya pada tanggal 1 Syawal.
8. Kemungkaran-kemungkaran yang terjadi pada hari raya.
Saat hari raya, kadang kita terlena dan tanpa kita sadari kita telah melakukan kemungkaran-kemungkaran diantaranya:
Berhias dengan mencukur jenggot (untuk laki-laki).
Berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram.
Menyerupai atau tasyabuh terhadap orang-orang kafir dalam hal pakaian dan mendengarkan musik serta berbagai kemungkaran lainnya.
Masuk rumah menemui wanita yang bukan mahrom.
Wanita bertabarruj atau memamerkan kecantikannya kepada orang lain dan wanita keluar ke pasar dan tempat-tempat lain.
Mengkhususkan ziarah kubur hanya pada hari raya ‘ied saja, serta membagi-bagikan permen, dan makanan-makanan lainnya, duduk di kuburan, bercampur baur antara laki-laki dan perempuan, melakukan sufur (wanitanya tidak berhijab), serta meratapi orang-orang yang sudah meninggal dunia.
Berlebih-lebihan dan berfoya-foya dalam hal yang tidak bermanfaat dan tidak mengandung mashlahat dan faedah.
Banyak orang yang meninggalkan sholat di masjid tanpa adanya alasan yang dibenarkan syari’at agama, dan sebagian orang hanya mencukupkan sholat ‘ied saja dan tidak pada sholat lainnya. Demi Allah ini adalah bencana yang besar.
Menghidupkan malam hari raya ‘ied, mereka beralasan dengan hadits dari Rasulullah: “Barangsiapa menghidupkan malam hari raya ‘iedul fitri dan ‘iedul adha, maka hatinya tidak akan mati di hari banyak hati yang mati.” (Hadits ini maudhu’/palsu sehingga tidak dapat dijadikan dalil).
Maroji’:
Ahkamul ‘Aidain oleh Syaikh ‘Ali Hasan bin ‘Ali al-Halabi al-Atsari.
Meneladani Rasulullah dalam Berhari Raya.
***
Artikel www.muslimah.or.id
Sabtu, 26 Juli 2014
Kamis, 22 Mei 2014
Bahan tambahan
Berbagai Zat Tambahan Dalam Campuran Kosmetik
Berbagai zat tambahan dalam campuran kosmetik :
Zat Warna, adalah zat atau campuran zat yang dapat digunakan pada sediaan kosmetik untuk mewarnai sediaan. Zat warna ini dapat pula digunakan sebagai bahan aktif dengan tujuan untuk melapisi luar tubuh manusia dengan atau tanpa bantuan zat lain. Misalnya produk kosmetik seperti Lipstick, Eyeshadow, dan Blush on.
Zat Pewangi, adalah zat atau campuran zat yang dapat digunakan pada sediaan kosmetik untuk memberikan aroma wangi pada sediaan tersebut. Contoh : Menthol, Sandalwood. Untuk produk kosmetik wangi-wangian, zat pewangi dapat pula berfungsi sebagai bahan aktif. Misalnya Parfum, Eau De Toilette, Eau De Cologne.
Zat Antioksidan, adalah zat/bahan yang ditambahkan untuk mencegah oksidasi dari sediaan. Contoh : vitamin E, Vitamin C, dll
Zat Pengikat, adalah zat/bahan-bahan yang ditambahkan ke dalam formula kosmetik bentuk padat untuk mencegah terjadinya kohesi. Contoh : Sellulosa, Kalsium stearat, dll
Dapar (Buffering agent), adalah zat/bahan-bahan yang ditambahkan ke dalam formula kosmetik untuk menambah atau menstabilkan pH. Contoh : asam sitrat, natrium hidroksida, dll
Zat Pengkhelat, adalah zat/bahan-bahan yang ditambahkan ke dalam formula kosmetik untuk membentuk kompleks dengan ion logam yang dapat berpengaruh terhadap stabilitas dan tampilan dari kosmetik tersebut. Contoh : Natrium Edetat.
Bahan tambahan yang dilarang dan diizinkan digunakan dalam kosmetik dengan persyaratan penggunaan & kadar maksimum yang diperbolehkan.
(Keputusan Kepala Badan POM RI No. HK.00.05.4.1745)
Nama Zat Fungsi Batas Kadar Max. Persyaratan Lain
Asam Benzoat Pengawet 0,5%
Formaldehid & paraformaldehid Pengawet
0,2% (kecuali untuk sediaan hygiene mulut)
0,1% (untuk sediaan hygiene mulut)
Jangan digunakan pada sediaan aerosol (spray)
Triklosan, Irgasan DP-300 Pengawet 0,3%
Fenoksipropanol Pengawet 1% Hanya untuk sediaan bilas
Benzetonium klorida Pengawet 0,1% Hanya untuk sediaan bilas
Asam Sorbat & garamnya Pengawet 0,6% (dihitung sebagai asam) Tidak boleh digunakan pada sediaan untuk anak dibawah usia 3 tahun, kecuali dalam sediaan sampo
Color Indeks (CI) 42640 Pewarna DILARANG
CI 12140 Pewarna DILARANG
Basic Violet2 (CI 42520) Pewarna Max. 5 ppm pada produk akhir Hanya digunakan pada sediaan yang kontak dengan kulit sebentar saja
D&C Yellow No. 7 Ext (CI No.10316) Pewarna - Digunakan dalam semua produk kosmetik kecuali produk yang digunakan di sekitar mata
D&C Green No. 1 Ext (CI No. 10020) Pewarna - Dilarang digunakan pada sediaan untuk sekitar mata, bibir, dan mulut serta membrane mukosa lainnya.
Silver/Perak (CI. No. 77820) Pewarna Maksimum 1% untuk sediaan kuku Diizinkan digunakan pada sediaan untuk seluruh bagian tubuh
Triethanolamin Dapar (buffer) 2,5% untuk sediaan non bilas
Jangan digunakan dengan senyawa yang dapat membentuk system nitroso
Minimum kemurnian : 99%
Kandungan N-nitrosodialkanolamin max. 50 mcg/kg
Kandungan alkanolamin sekunder max. 0,5% (pada bahan)
Simpan pada wadah bebas nitrit
Berdasarkan hasil investigasi dan pengujian laboratorium. Badan POM telah menyita 51 merek kosmetik yang mengandung bahan berbahaya seperti rhodamin B (pewarna kain dan bangunan) dan merkuri. Penggunaan bahan yang dilarang tersebut dapat membahayakan pengguna kosmetik, misalkan dapat menimbulkan kanker kulit atau terjadi penumpukan Hg dalam tubuh yang dapat membahayakan kesehatan. Kebanyakan produk yang disita itu berasal dari China, Hongkong dan Thailand.
Di bawah ini terdapat beberapa bahan-bahan lain yang dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan bila digunakan dalam jumlah yang berlebihan.
NAMA BAHAN BATAS KADAR MAXIMUM KETERANGAN
Formaldehyde
0,2% (kecuali untuk sediaan hygiene mulut)
0,1% (untuk sediaan hygiene mulut)
Biasanya digunakan sebagai pengawet pada produk cat kuku, pengawet kuku dan produk kosmetik lainnya.
Umumnya dapat menimbulkan reaksi yang tidak diinginkan pada kulit.
Jangan digunakan pada sediaan aerosol (spray)
Imidazolidinyl Urea 0,6%
Digunakan sebagai pengawet
Umumnya dapat menimbulkan reaksi yang tidak diinginkan pada kulit
Parabens (Metil, Etil, Butil, Propil, Isobutil)
0,4% (dalam bentuk tunggal)
0,8% (dalam bentuk campuran)
Umumnya digunakan sebagai pengawet.
Dapat menimbulkan iritasi kulit
Rodamin B Dilarang
Digunakan sebagai pewarna pada produk tekstil
Methylisothiazolinone & Metylkloroisotiazolinone (Katon CG) 0,0015% (dengan perbandingan 1:3)
Pengawet
Dapat menimbulkan reaksi alergi dan iritasi.
Metanil Yellow Dilarang
Digunakan sebagai pewarna pada produk tekstil
Dapat menimbulkan efek karsinogenik
Berbagai zat tambahan dalam campuran kosmetik :
Zat Warna, adalah zat atau campuran zat yang dapat digunakan pada sediaan kosmetik untuk mewarnai sediaan. Zat warna ini dapat pula digunakan sebagai bahan aktif dengan tujuan untuk melapisi luar tubuh manusia dengan atau tanpa bantuan zat lain. Misalnya produk kosmetik seperti Lipstick, Eyeshadow, dan Blush on.
Zat Pewangi, adalah zat atau campuran zat yang dapat digunakan pada sediaan kosmetik untuk memberikan aroma wangi pada sediaan tersebut. Contoh : Menthol, Sandalwood. Untuk produk kosmetik wangi-wangian, zat pewangi dapat pula berfungsi sebagai bahan aktif. Misalnya Parfum, Eau De Toilette, Eau De Cologne.
Zat Antioksidan, adalah zat/bahan yang ditambahkan untuk mencegah oksidasi dari sediaan. Contoh : vitamin E, Vitamin C, dll
Zat Pengikat, adalah zat/bahan-bahan yang ditambahkan ke dalam formula kosmetik bentuk padat untuk mencegah terjadinya kohesi. Contoh : Sellulosa, Kalsium stearat, dll
Dapar (Buffering agent), adalah zat/bahan-bahan yang ditambahkan ke dalam formula kosmetik untuk menambah atau menstabilkan pH. Contoh : asam sitrat, natrium hidroksida, dll
Zat Pengkhelat, adalah zat/bahan-bahan yang ditambahkan ke dalam formula kosmetik untuk membentuk kompleks dengan ion logam yang dapat berpengaruh terhadap stabilitas dan tampilan dari kosmetik tersebut. Contoh : Natrium Edetat.
Bahan tambahan yang dilarang dan diizinkan digunakan dalam kosmetik dengan persyaratan penggunaan & kadar maksimum yang diperbolehkan.
(Keputusan Kepala Badan POM RI No. HK.00.05.4.1745)
Nama Zat Fungsi Batas Kadar Max. Persyaratan Lain
Asam Benzoat Pengawet 0,5%
Formaldehid & paraformaldehid Pengawet
0,2% (kecuali untuk sediaan hygiene mulut)
0,1% (untuk sediaan hygiene mulut)
Jangan digunakan pada sediaan aerosol (spray)
Triklosan, Irgasan DP-300 Pengawet 0,3%
Fenoksipropanol Pengawet 1% Hanya untuk sediaan bilas
Benzetonium klorida Pengawet 0,1% Hanya untuk sediaan bilas
Asam Sorbat & garamnya Pengawet 0,6% (dihitung sebagai asam) Tidak boleh digunakan pada sediaan untuk anak dibawah usia 3 tahun, kecuali dalam sediaan sampo
Color Indeks (CI) 42640 Pewarna DILARANG
CI 12140 Pewarna DILARANG
Basic Violet2 (CI 42520) Pewarna Max. 5 ppm pada produk akhir Hanya digunakan pada sediaan yang kontak dengan kulit sebentar saja
D&C Yellow No. 7 Ext (CI No.10316) Pewarna - Digunakan dalam semua produk kosmetik kecuali produk yang digunakan di sekitar mata
D&C Green No. 1 Ext (CI No. 10020) Pewarna - Dilarang digunakan pada sediaan untuk sekitar mata, bibir, dan mulut serta membrane mukosa lainnya.
Silver/Perak (CI. No. 77820) Pewarna Maksimum 1% untuk sediaan kuku Diizinkan digunakan pada sediaan untuk seluruh bagian tubuh
Triethanolamin Dapar (buffer) 2,5% untuk sediaan non bilas
Jangan digunakan dengan senyawa yang dapat membentuk system nitroso
Minimum kemurnian : 99%
Kandungan N-nitrosodialkanolamin max. 50 mcg/kg
Kandungan alkanolamin sekunder max. 0,5% (pada bahan)
Simpan pada wadah bebas nitrit
Berdasarkan hasil investigasi dan pengujian laboratorium. Badan POM telah menyita 51 merek kosmetik yang mengandung bahan berbahaya seperti rhodamin B (pewarna kain dan bangunan) dan merkuri. Penggunaan bahan yang dilarang tersebut dapat membahayakan pengguna kosmetik, misalkan dapat menimbulkan kanker kulit atau terjadi penumpukan Hg dalam tubuh yang dapat membahayakan kesehatan. Kebanyakan produk yang disita itu berasal dari China, Hongkong dan Thailand.
Di bawah ini terdapat beberapa bahan-bahan lain yang dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan bila digunakan dalam jumlah yang berlebihan.
NAMA BAHAN BATAS KADAR MAXIMUM KETERANGAN
Formaldehyde
0,2% (kecuali untuk sediaan hygiene mulut)
0,1% (untuk sediaan hygiene mulut)
Biasanya digunakan sebagai pengawet pada produk cat kuku, pengawet kuku dan produk kosmetik lainnya.
Umumnya dapat menimbulkan reaksi yang tidak diinginkan pada kulit.
Jangan digunakan pada sediaan aerosol (spray)
Imidazolidinyl Urea 0,6%
Digunakan sebagai pengawet
Umumnya dapat menimbulkan reaksi yang tidak diinginkan pada kulit
Parabens (Metil, Etil, Butil, Propil, Isobutil)
0,4% (dalam bentuk tunggal)
0,8% (dalam bentuk campuran)
Umumnya digunakan sebagai pengawet.
Dapat menimbulkan iritasi kulit
Rodamin B Dilarang
Digunakan sebagai pewarna pada produk tekstil
Methylisothiazolinone & Metylkloroisotiazolinone (Katon CG) 0,0015% (dengan perbandingan 1:3)
Pengawet
Dapat menimbulkan reaksi alergi dan iritasi.
Metanil Yellow Dilarang
Digunakan sebagai pewarna pada produk tekstil
Dapat menimbulkan efek karsinogenik
Rabu, 21 Mei 2014
ISOMER (KIMIA ORGANIK)
ISOMER ALKANA, ALKENA, ALKUNA
Kita sering menjumpai suatu senyawa kimia yang memiliki rumus kimia/ molekul sama tetapi memiliki rumus struktur molekul berbeda. Hal ini disebabkan karena pada suatu senyawa tertentu terjadi proses isomerisasi. Ismerisasi merupakan peristiwa terjadi ketika dua senyawa atau lebih memiliki rumus molekul sama tetapi memiliki struktur ikatan berbeda. Senyawa-senyawa yang memiliki rumus molekul sama tetapi memiliki struktur ikatan beda disebut isomer. Adapun jenis-jenis isomer yang terjadi pada senyawa-senyawa kimia meliputi isomer Struktur (kerangka, posisi dan fungsional) dan geometri (cis dantrans).
1. Isomer Alkana
Dalam senyawa alkana juga ada yang rumus molekulnya sama, tetapi rumus struktur molekulnya berbeda. Mulai dari alkana dengan rumus molekul C4H10mempunyai dua kemungkina struktur ikatan untuk menata atom-atom karbonnya seperti di bawah ini:
1. Isomer Kerangka/ Rantai
c. Isomer Fungsional
Isomer fungsional pada alkena dimulai dari propena (C3H6)
3. Isomer Alkuna
a. Isomer Posisi
Pada pentuna C5H8 memiliki 3 isomer seperti di bawah ini:
b. Isomer kerangka/ rantai
c. Isomer Fungsi
Struktur alkana dapat berupa rantai lurus atau rantai bercabang. Alkana yang mengandung tiga atom karbon atau kurang tidak mempunyai isomer seperti CH4, C2H6 dan C3H8 karena hanya memiliki satu cara untuk menata atom-atom dalam struktur ikatannya sehingga memilki rumus molekul dan rumus struktur molekul sama. Perhatikan gambar di bawah ini:
Dalam senyawa alkana juga ada yang rumus molekulnya sama, tetapi rumus struktur molekulnya berbeda. Mulai dari alkana dengan rumus molekul C4H10mempunyai dua kemungkina struktur ikatan untuk menata atom-atom karbonnya seperti di bawah ini:
Untuk senyawa-senyawa tersebut disebut isomer. Oleh karena perbedaan hanya pada kerangka struktur maka isomernya disebut isomer kerangka.
Untuk pentana (C5H12) memiliki tiga kemungkinan struktur ikatan untuk menata atom-atom karbonnya yaitu:
Kita dapat menyimpulkan dari 2 contoh di atas bahwa semakin bertambah jumlah atom C pada rumus molekul suatu alkana maka semakin banyak isomernya seperti yang tertera ditabel bawah ini:
Jumlah atom C
|
C4
|
C5
|
C6
|
C7
|
C8
|
C9
|
C10
|
Rumus molekul
|
C4H10
|
C5H12
|
C6H14
|
C7H16
|
C8H18
|
C9H20
|
C10H22
|
Jumlah isomer
|
2
|
3
|
5
|
9
|
18
|
35
|
75
|
2. Isomer Alkena
Pada senyawa alkena, keisomeran dimulai dari senyawa dengan rumus kimia C4H8 sama seperti senyawa alkana. Jenis isomer yang dapat terjadi pada senyawa alkena yaitu isomer struktur dan isomer geometri.
a. Isomer Struktur
1. Isomer Kerangka/ Rantai
2. Isomer posisi
Isomer posisi adalah isomer yang memiliki perbedaan posisi ikatan rangkap karbon-karbon dalam molekul yang sama.
b. Isomer geometri
Ikatan rangkap dua karbon-karbon pada alkena tidak dapat memutar (melintir) sebab jika diputar akan memutuskan ikatan rangkap, tentunya memerlukan energi cukup besar sehingga mengakibatkan ketegaran diantara ikatan rangkap tersebut. Akibat dari ketegaran, ikatan rangkap menimbulkan isomer tertentu pada alkena. Pada contoh berikut, ada dua isomer untuk 2-butena (CH3CH=CHCH3), yaitu cis-2-butena dan trans-2-butena.
c. Isomer Fungsional
Isomer fungsional pada alkena dimulai dari propena (C3H6)
3. Isomer Alkuna
Pada senyawa alkuna, keisomeran dimulai dari senyawa butuna dengan rumus kimia (C4H6) memiliki jenis isomer yaitu isomer struktur. Pada pembahasan berikut akan dijelaskan mengenai isomer struktur senyawa alkuna. Perhatikan dua isomer yang dimiliki butuna (C4H6)
a. Isomer Posisi
Pada pentuna C5H8 memiliki 3 isomer seperti di bawah ini:
b. Isomer kerangka/ rantai
c. Isomer Fungsi
ALKOHOL
NAMA NAMA UNTUK ALKOHOL
Dalam sistem tatanama IUPAC, nama-nama senyawa alkana kehilangan akhiran "e" dan diganti dengan "ol", contohnya metana menjadi metanol dan etana menjadi etanol. [1]Ketika dibutuhkan, posisi dari gugus hidroksil dapat diketahui dari nomor di antara nama alkana dan "ol": 1-propanol untuk CH3CH2CH2OH, 2-propanol untuk CH3CH(OH)CH3. Jika ada gugus fungsi yang lebih tinggi (seperti aldehida, keton, atau asam karboksilat, maka awalannya adalah "hidroksi",[1] contohnya: 1-hidroksi-2-propanon (CH3COCH2OH).[2]
Penggunaan tatanama IUPAC dipakai di publikasi-publikasi ilmiah dan diperlukan identifikasi detail terhadap substansi tersebut. Pada konteks lainnya, alkohol biasanya disebut dengan gugus alkil ditambah dengan kata "alkohol", misalnya metil alkohol, etil alkohol. Propil alkohol dapat disebut n-propil alkohol atau isopropil alkohol, tergantung dari dimana gugus fungsinya berikatan, berikatan pada karbon pertama atau kedua pada rantai propana.
Alkohol dapat dikelompokkan menjadi alohol primer, alkohol sekunder, dan alkohol tersier, tergantung dari berapa banyak atom karbon lain yang berikatan dengan atom karbon yang juga mengikat gugus hidroksil. Alkohol primer mempunyai rumus umum RCH2OH; alkohol sekunder rumus umumnya RR'CHOH; dan alkohol tersier rumus umumnya RR'R"COH, dimana R, R', dan R" melambangkan gugus alkil. Etanol dan n-propil alkohol adalah contoh alkohol primer; isopropil alkohol adalah contoh alkohol sekunder. Penggunaan awalan sek- (atau s-) dan tert- (atau t-), biasanya ditulis dalam huruf miring, dapat digunakan sebelum nama gugus alkil untuk membedakan alkohol sekunder dan alkohol tersier dari alkohol primer. Contohnya, isopropil alkohol juga dapat disebut sek-propil alkohol, dan alkohol tersier (CH3)3COH, atau 2-metil-2-propanol juga dapat disebut dengan tert-butil alkohol atau tert-butanol.
Nama umum/trivial/perdagangan[sunting | sunting sumber
| Rumus kimia | Nama IUPAC | Nama umum |
|---|---|---|
| Alkohol monohidrik | ||
| CH3OH | Metanol | Alkohol kayu |
| C2H5OH | Etanol | Alkohol gandum |
| C3H7OH | Isopropil alkohol | Alkohol gosok |
| C5H11OH | Pentanol | Amil alkohol |
| C16H33OH | 1-Heksadekanol | Cetil alkohol |
| Alkohol polihidrik | ||
| C2H4(OH)2 | 1,2-etadienol | Etilen glikol |
| C3H5(OH)3 | 1,2,3-propatrienol | Gliserol |
| C4H6(OH)4 | 1,2,3,4-butatetraenol | Eritritol |
| C5H7(OH)5 | 1,2,3,4,5-pentapentanol | Xylitol |
| C6H8(OH)6 | 1,2,3,4,5,6-heksaheksanol | Mannitol, Sorbitol |
| C7H9(OH)7 | 1,2,3,4,5,6,7-heptaheptanol | Volemitol |
| Alkohol alifatik tidak tersaturasi | ||
| C3H5OH | Prop-2-ene-1-ol | Alil alkohol |
| C10H17OH | 3,7-Dimethylocta-2,6-dien-1-ol | Geraniol |
| C3H3OH | Prop-2-in-1-ol | Propargil alkohol |
| Alkohol alisiklik | ||
| C6H6(OH)6 | Cyclohexane-1,2,3,4,5,6-geksol | Inositol |
| C10H19OH | 2 - (2-propyl)-5-methyl-cyclohexane-1-ol | Mentol |
ALKOHOL FENOL KIMIA ORGANIK
LAPORAN ALKOHOL FENOL KIMIA ORGANIK
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam dunia kefarmasian, kita akan di pertemukan dengan berbagai macam larutan, dan salah satu dari sekian banyak larutan tersebut adalah alcohol dan fenol. Alkohol dikenal dengan senyawa yang mengandung gugus hidroksil. Fenol juga mengandung gugus hidroksil tetapi gugus fungsi ini melekat pada cincin aromatik.
Dalam kehidupan sehari-hari, alcohol juga biasa di gunakan sebagai pemati rasa (Anestetik), sebagai bakterisid, dan masih benyak senyawa alkohol dan eter lainnya. Sedangkan fenol merrupakan activator kuat dalam reaksi subtitusi aromatik elektrofilik.
Keasaman fenol lebih kuat dibanding dengan keasaman alcohol, karena anion yang dihasilkan oleh resonansi,dengan muatan negatifnya disebar (delokalisasi) oleh cincin aromatik. Kekuatan asam fenol kira-kira ditengah antara etanol dan asam asetat. Reaksi alkohol dengan asam kuat menghasilkan pemindahan (eliminasi gugus fungsi –OH), alkohol dan fenol adalah asam-asam lemah,tentang keasaman ini dapat diketahui dengan penambahan karbonat dan bikarbonat membentuk CO2.
B. Maksud Percobaan
Adapun maksud dari percobaan ini adalah :
• Mempelajari beberapa sifat fisika dan kimia dari Alkohol dan Fenol
• Membedakan antara Alkohol Primer,Sekunder,dan Tersier
C. Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah :
• untuk mengetahui kelarutan alcohol dan fenol dalam air dan n-heksana
• untuk dapat membedakan antara Alkohol primer,sekunder,dan tersier
• untuk mengetahui reaksi alcohol dan fenol dengan Na2CO3 dan NaHCO3
• untuk mengetahui reaksi alcohol dan fenol dengan FeCl3
D. Prinsip Percobaan
Adapun prinsip percobaan ini adalah menentukan sifat fisika dan kimia dari alkohol dan fenol, dengan mereaksikannya dengan air, senyawa n –heksana, Na2CO3, dan NaHCO3 serta untuk membedakan alkohol primer(metanol), dan sekunder (2-propanol) dengan menggunakan pereaksi lucas.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Teori Umum
Alkohol merupakan suatu senyawa yang mengandung gugus hidroksil, -OH. Fenol juga mngandung gugus hidroksil tetapi gugus fungsi ini melekat pada cincin aromatik.
(Fessenden R.J : 1986)
Alkohol adalah isomer fungsional yaitu mempunyai rumus molekul sama tetapi gugus funsionalnya berbeda. Untuk alkohol ada juga yang bersifat optis aktif yaitu dapat memutar bidang polarisasi cahaya cahaya yaitu alkohol yang mempunyai atom karbon asismetris (C khiral) yaitu keempat gugus yang terikat berbeda satu sama lain.
(Marham Sitorus : 2010)
Alkohol merupakan senyawa yang penting dalam kehidupan sehari-hari karena dapat digunakan sebagai zat pembunuh kuman, bahan bakar maupun pelarut. Dalam laboratorium dan industri alkohol digunakan sebagai pelarut dan reagensia. Alkohol dapat membentuk ikatan hidrogen antara molekul-molekulnya maupun dengan air. Hal ini dapat mengakibatkan titik didih maupun kelarutan alkohol dalam air cukup tinggi. Selain dipengaruhi oleh ikatan hidrogen, kelarutan alkohol juga dipengaruhi oleh panjang pendeknya gugus alkil, banyaknya cabang dan banyaknya gugus hidroksil yang terikat pada atom karbon. Seperti air, alkohol adalah asam atau basa sangat lemah. Pada larutan encer dalam air, alkohol mempunyai pKa yang kira-kira sama dengan pKa air. Namun dalam keadaan murni keasaman alkohol jauh lebih lemah daripada air. Hal ini disebabkan karena alkohol mempunyai tetapan elektrik yang rendah.
(Suminar : 1990)
Sifat-sifat fisika dari alkohol :
• Titik didih alkohol lebih tinggi dibanding dengan titik didih alkana yang mempunyai atom C yang sama. Hal ini karena dalam keadaan cair molekul-molekul alkohol terasosiasi dan biasanya membentuk jembatan.
• Makin banyak atom C, makin tinggi titik didihnya.
• Alkohol BD nya lebih tinggi daripada alkan, tetapi lebih rendah daripada air
• Alkohol-alkohol rendah.
(Marappung : 2002)
Fenol merupakan asam yang lebih kuat dari pada alkohol atau air. Fenol dengan pKa=10 dengan kekuatan asam kira-kira ditengah antara etanol dan asam asetat. Ion fenoksida merupakan basa yang lebih lemah dibandingkan OH, oleh karena itu,fenoksida dapat diolah dengan seuatu fenol dan NaOH dalam air.reaktifitas ini sangat berbeda dengan reaktifitas alkohol. Fenol bersifat lebih asam dibandingkan alkohol karena anion yang dihasilkan oleh resonansi,dengan muatan negatifnya disebar (delokalisasi) oleh cincin aromatik.
(Fessenden R.J : 1986)
Fenol mempunyai gugus yang seperti alkohol akan tetapi gugus fungsinya melekat langsung pada cincin aromatik. Tata namanya biasa dipergunakan nama yang lazim dengan akhiran –Ol.
Fenol mempunyai sifat-sifat yaitu :
- Mempunyai sifat asam. Atom H dapat diganti tak hanya dengan logam (seperti alkohol) tetapi juga dengan basa, terjadi fenolat. Sifat asam dari fenol-fenol lemah dan fenolat ini dapat diuraikan dengan asam karbonat.
- Mudah dioksidasi, juga oleh O2 udara dan memberikan zat-zat warna,mereduksi larutan fehling dan Ag- beramoniak.
- Memberi reaksi-reaksi berwarna dengan FeCl3.
- Mempunyai sifat antiseptik, beracun, mengikis, Ka = 1 x 10-10
(Riawan : 1990)
B. Uraian bahan
1. Air Suling (Ditjen POM edisi III 1979 : )
Nama Resmi : AQUA DESTILLATA
Nama Lain : Air Suling / aquadest
RM/BM : H2O / 18,02
Pemerian : Cairan jernih, Tidak berwarna, Tidak berasa, dan tidak berbau.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : sebagai pereaksi
2. Alkohol (Ditjen POM edisi III 1979 : 65)
Nama Resmi : AETHANOLUM
Nama Lain : Alkohol
RM/BM : C2H6O / 46,0
Pemerian : cairan tak berwarna, jernih, mudah menguap, dan mudah bergerak, bau khas dan rasa panas.
Kelarutan : Hampir larut dalam larutan
Penyimpanan : dalam wadah tertututp rapat
Kegunaan : sebagai pengurang rasa sakit
3. Amyl Alkohol (Ditjen POM 1979:641)
Nama Resmi : AMYL ALKOHOL
Nama Lain : Amyl alcohol
RM/BM : C16H33OH/242,4
Rumus struktur : CH3-(CH2)14-CH2-OH
Pemerian : Kristal putih,mengikat, rasa seperti lemak ada yang membentuk keping-keping, tidak berwarna
Kelarutan : Tidak larut dalam air,larut dalam Alcohol, etil dan eter
4. Asam asetat (Ditjen POM edisi III 1979 : 41)
Nama Resmi : ACIDUM ACETIUM
Nama Lain : asam asetat
RM/BM : CH3COOH / 60,05
Pemerian : cairan jernih, tak berwarna, bau busuk, rasa asam tajam
Kelarutan : Dapat bercampur dengan air, etanol (95%) dan gliserol P
Penyimpanan : Dalam wadah tertutu rapat
Kegunaan : sebagai zat tambahan
5. FeCl3 ( Ditjen POM edisi III 1979 : 659)
Nama Resmi : FERRI CHLORIDA
Nama Lain : Besi (III) Klorida
RM/BM : FeCl3 / 162,5
Pemerian : Hablur atau serbuk hablur, hitam kehijauan, bebas warna jingga dari garam hidrat yang telah berpengaruh oleh kelembapan
Kelarutan : Larut dalam air, lautan berpotensi berwarna jingga
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan : Sebagai pereaksi
6. Fenol (Ditjen POM edisi III 1979:484)
Nama resmi : PHENOLUM
Nama lain : Fenol
RM / BM : C6H5OH
Pemerian : Hablur bentuk jarum atau massa hablur, tidak .
Kelarutan : Larut dalam ½ bagian air, mudah larut dalam etanol,dalam kloroform P. dalam eter P, dalam gliserol P dan dalam minyak lemak
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya, di tempat sejuk
Kegunaan : Antiseptikum ekstern.
7. HCl (Ditjen POM edisi III 1979 : 53)
Nama Resmi : ACIDUM HYDROCHLORIDUM
Nama Lain : Asam Klorida
BM / RM : 36,46 / HCl
Pemerian : cairan tidak berwarna,berasap, bau merangsang, jika diencerkan dengan 2 bagian air asap dan bau hilang
Kelarutan : Larutan yang sangat encer masih bereaksi dengan asam kuat terhadap kertas lakmus
Kegunaan : Sebagai zat tambahan
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
8. Methanol ( Ditjen POM edisi III 1979 : 706)
Nama Resmi : METANOL
Nama lain : Metanol
RM/BM : CH3OH/34,00
Rumus Struktur : CH3-OH
Pemerian : Cairan tidak berwarna, gliserin, bau khas
Kelarutan : Dapat bercampur dengan air, membentuk cairan jernih tidak berwarna
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup
Kegunaan : Sebagai pereaksi
9. NaHCO3 (Ditjen POM edisi III 1979 : 424)
Nama Resmi : NATRII SUBCARBONAS
Nama Lain : Natrium bikarbonat
RM/BM : NaHCO3 / 84.01
Pemerian : serbuk putih atau hablur monoklin kecil, buram, tidak berbau, rasa asin
Kelarutan : Larut dalam 11 bagian air, praktis tdak larut dalam etanol (95%) P
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Sebagai antasidum
10. Na2CO3 (Ditjen POM edisi III 1979 : 400)
Nama Resmi : NATRII CARBONAS
Nama Lain : Natrium karbonat
RM/BM : Na2CO3 / 124,00
Pemerian : Hablur tidak berwarna, atau serbuk hablur putih
Kelarutan : Mudah larut dalam air, Lebih mudah larut dalam air mendidih
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Sebagai zat tambahan
11. n-heksana (Ditjen POM edisi III 1979 : 283)
Nama resmi : HEXAMINUM
Nama lain : Heksamina
RM/BM : C6H12N4 / 140,19
Pemerian : hablur mengkilap, tidak berwarna atau serbuk hablur putih, tidak berbau, rasa membakar an manis kemudian agak pahit. Jika di panaskan dalam suhu ± 260⁰ menyublim.
Kelarutan : larut dalam 1,5 bagian air, dalam 12,5 ml etanol (95 %) P dan dalam lebih kurang 10 bagian kloroform P
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : antiseptikum
12. 2-propanol (Ditjen POM edisi III 1979 : 685)
Nama Resmi : ISOPROPANOL
Nama lain : Propan-2-ol
RM / BM : CH3CH3.CHOH.CH3 / 0,784
Pemerian : cairan jernih, tidak berwarna, bau khas, mudah terbakar
Kelarutan : Dapat bercampur dengan air, dengan kloroform P dan dengan eter P
C. Prosedur Kerja (Anonim, 2011)
A. Kelarutan dalam air dan n-heksana
1. Siapkan dua buah tabung
2. Pada tabung reaksi pertama isi dengan 0,5 ml air dan pada tabung kedua di isi 0,5 ml heksana
3. Masing – masing tabung tambahkan dengan setetes methanol
4. Kocok dan perhatikan kelarutannya
5. Kerjakan kegiatan tersebut 1-4, dengan mengganti methanol dengan amil alcohol
6. Kocok dan perhatikan kelarutannya
7. Setelah itu amil alcohol ganti dengan fenol
B. Alkohol Primer, Sekunder, dan Tersier
1. Siapkan tiga buah tabung reaksi
2. Masing – masing tabung isi dengan 1 ml pereeaksi Lucas
3. Kemudian tambahkan 3 – 5 tetes alcohol primer pada tabung pertama, 3– 5 tetes alcohol sekunder pada tabung kedua, dan 3 – 5 tetes tersier
4. Kocok dan biarkan selama 3 – 5 menit
5. Perhatikan perubahan yang terjadi dan catat
6. Kerjakan percobaan tersebut dengan menggunakan fenol
C. Beberapa Reaksi Alkohol dan Fenol
- Reaksi dengan Na2CO3 dan NaHCO3
1. Siapkan tiga buah tabung reaksi
2. Tabung pertama diisi dengan Amyl alcohol, pada tabung kedua dengan fenol, dan pada tabung ketiga isi dengan asam asetat (sebagai pembanding) masing – masing 1 ml
3. Masing – masing tabung reaksi tambah dengan 0,5 ml Na2CO3
4. Kocok dan biarkan selama 3 – 5 menit
5. Perhatikan perubahan dan catat
6. Kerjakan seperti 1 – 5 (ganti Na2CO3 dengan NaHCO3)
- Reaksi dengan FeCl3
1. Siapkan tiga buah tabung reaksi
2. Pada tabung pertama isi dengan methanol, pada tabung kedua isi dengan amil alkohol, dan pada tabung ketiga isi dengan fenol masing –masing 1 ml
3. Kedalam masing – masing tabung reaksi tambahkan beberapa tetes FeCl3
4. Catat perubahan yang terjadi
BAB III
METODE KERJA
A. ALAT DAN BAHAN
Alat :
1. Tabung reaksi
2. Rak tabung
3. Gelas ukur 5 ml
4. Pipet panjang
Bahan :
1. Air suling
2. Alcohol
3. Amyl alkohol
4. Asam asetat
5. FeCl3
6. Fenol
7. HCl
8. Methanol
9. NaHCO3
10. Na2CO3
11. n-Heksana
12. 2-propanol
B. Cara Kerja
A. Kelarutan dalam air dan n-heksana
1. di Siapkan dua buah tabung
2. Pada tabung reaksi pertama di isi dengan 0,5 ml air dan pada tabung kedua di isi 0,5 ml heksana
3. Masing – masing tabung di tambahkan dengan setetes methanol
4. Di Kocok dan perhatikan kelarutannya
5. Di Kerjakan kegiatan tersebut 1-4, dengan mengganti methanol dengan amil alcohol
6. Di Kocok dan diperhatikan kelarutannya
7. Setelah itu amil alcohol diganti dengan fenol
B. Alkohol Primer, Sekunder, dan Tersier
1. Di Siapkan tiga buah tabung reaksi
2. Masing – masing tabung diisi dengan 1 ml pereeaksi Lucas
3. Kemudian ditambahkan 3 – 5 tetes alcohol primer pada tabung pertama, 3– 5 tetes alcohol sekunder pada tabung kedua
4. Di Kocok dan dibiarkan selama 3 – 5 menit
5. Perhatikan perubahan yang terjadi dan dicatat
6. Di Kerjakan percobaan tersebut dengan menggunakan fenol
C. Reaksi dengan bebeapa alcohol dan fenol
- Reaksi dengan Na2CO3 dan NaHCO3
1. Di Siapkan tiga buah tabung reaksi
2. Tabung pertama diisi dengan Amyl alcohol, pada tabung kedua di isi dengan fenol, dan pada tabung ketiga diisi dengan asam asetat (sebagai pembanding) masing – masing 1 ml
3. Masing – masing tabung reaksi ditambah dengan 0,5 ml Na2CO3
4. Di Kocok dan di biarkan selama 3 – 5 menit
5. Perhatikan perubahan dan di catat
6. Kerjakan seperti 1 – 5 (diganti Na2CO3 dengan NaHCO3)
- Reaksi dengan FeCl3
1. Di Siapkan tiga buah tabung reaksi
2. Pada tabung pertama diisi dengan methanol, pada tabung kedua diisi dengan amil alkohol, dan pada tabung ketiga diisi dengan fenol masing –masing 1 ml
3. Kedalam masing – masing tabung reaksi ditambahkan beberapa tetes FeCl3
4. Di Catat perubahan yang terjadi
BAB IV
HASIL PENGAMATAN
A. DATA PENGAMATAN
a. Kelarutan dalam air dan n-heksana
Alkohol /fenol Kelarutan
Dalam Air Kelarutan dalam
n-heksana keterangan
Metanol Larut sempurna Larut sempurna Methanol lebih cepat larut dalam air daipada dalam n-heksana
Amil alkohol Larut sempurna Tidak larut Amyl alcohol larut dalam air, dalam n-heksana Terbentuk 2 fase antara polar dan non polar
Fenol Larut sempurna Larut sempurna Fenol lebih cepat larut dalam air
b. Alkohol Primer, sekunder, dengan pereaksi lucas
Alkohol Pereaksi lucas Keterangan
Primer (Metanol) 1 ml Larut lebih cepat
Sekunder (2-propanol) 1 ml larut
c. Beberapa reaksi alkohol dan fenol
- Reaksi dengan Na2CO3 dan NaHCO3
Alkohol / fenol Na2CO3 (1ml) NaHCO3 (1ml) Keterangan
Amil alkohol Larut sempurna Larut sempurna Dalam Na2CO3 terdapat gelembung, dalam NaHCO3 terbentuk 2 fase
fenol Larut sempurna Larut sempurna Hanya terjadi satu fase
Asam asetat Larut sempurna Larut sempurna Hanya Terbentuk 1 fase
- Reaksi dengan FeCl3
Zat FeCl3 (1ml) Keterangan
Metanol Larut Larutan berubah warna menjadi kuning
Amil Alkohol Tidak larut Terbentuk 2 fase, pada fase 1 pada permukaan amyl alcohol. Pada fase ke2 FeCl3
Fenol Larut Larutan berubah warna menjadi ungu
BAB V
PEMBAHASAN
Alkohol adalah senyawa yang mempunyai rumus umum :R-OH dimana R adalah gugus alkil atau alkil tersubtitusi. Gugus ini dapat merupakan rantai terbuka, rantai tertutup (siklis) dan dapat mempunyai ikatan rangkap atau mengikat gugus aromatik. Sebagai turunan alkana dan maupun air, alkohol dapat menyerupai sifat keduanya. Alkohol lebih rendah mempunyai sifat yang menyerupai air karena gugusan hidroksil (-OH) mengambil bagian yang lebih besar dalam molekulnya. Sedangkan alkohol yang lebih tinggi terutama yang menyerupai sifat-sifat alkana hanya sedikit larut dalam air. Tetapi lebih mudah larut dalam pelarut organik.
Pada pratikum kali ini kita akan melihat reaksi alcohol dan fenol dalam air, n-heksana, alkkohol primer (Metanol), alcohol sekunder (2 propanol), Na2CO3, NaHCO3, dan dalam FeCl3.
Pada percobaan kelarutan dalam air dan n-heksana pereaksi-pereaksi yang digunakan yaitu metanol, amil alkohol, dan fenol. Untuk reaksi dengan air, semuanya larut sempurna dalam air. Untuk kelarutan dalam n-heksana methanol dan fenol larut sempurna dalam air, tamyl alkoholpun begittu namun pada amyl alcohol terjad 2 fase berbeda antara polar dan non polar. Tejadinya 2 fase tersebut karena adanya perbedaan bobot jenis antara kedua senyawa.
Pada percobaan kelarutan alcohol primer dan sekunder pada pereaksi lucas, yang mana alcohol primer disisi yang dipakai adalah methanol dan alcohol sekunder adalah 2 propanol. Kedua-duanya (methanol dan 2 propanol) larut, namun methanol lebih cepat larut dari pada 2 propanol. Hal ini disebabkan karena alkohol primer hanya mengikat satu atom C sedangkan pada alkohol sekunder mengikat dua atom C. Sehingga semakin panjang rantai karbon maka akan semakin sulit bagi senyawa tersebut untuk bereaksi.
Pada reaksi dengan Na2CO3 dan NaHCO3 yang menggunakan pereaksi amil alcohol , fenol dan asam asetat. Semuanya larut sempurna namun pada amil alcohol + Na2CO3 terdapat gelembung, dan pada amil alcohol + NaHCO3 terbentuk 2 fase antara fase minyak dan fase air. Perbedaan fase ini terjadi karena adanya perbedaan bobot jenis dari kedua senyawa.
Jika methanol dilarutkan dengan larutan FeCl3 menghasilkan warna kuning dan jika fenol dilarutkan dengan larutan FeCl3 menghasilkan warna ungu. Ini menandakan bahwa fenol bersifat lebih asam dari pada alkohol. jika amil alcohol di reaksikan dengan FeCl3 terbentuk 2 fase, dimana pada fase pertama, Pada permukaan merupakan amil alcohol, dan pada pada fase ke dua adalah FeCl3.ini karena alcohol + FeCl3 tidaj larut sempuna.
Salah satu sifat fisika dari alcohol adalah bersifat polar. Semakin panjang gugus alkil dari suatu alcohol, semakin berkurang pula kepolaran alkohl tesebut, begitu pula sebaliknya. Kelarutan alcohol dalam air menjadi berkurang dengan bertambah panjangnya rantai karbon. Hal inilah yang kemudian menyebabkan alcohol yang memiliki rantai karbon yang lebih panjang lebih mudah larut dalam n-heksana di bandigkan dengan air. Atau dapat di katakana kelarutan alcohol dalam pelarut nonpolar bertambah seiring dengan bertambah panjangnya rantai karbon.
BAB VI
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari percobaan di atas dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1. Alcohol dan fenol lebih cepat larut dalam air dari pada dalam n-heksana
2. Alcohol primer (Metanol) lebih cepat larut dalam pereaksi Lukas dari pada alcohol sekunder (2 Propanol)
3. Amyl alcohol, fenol, asam asetat larut sempurna dalam Na2CO3. Tapi dalam NaHCO3 amyl alcohol terbentuk 2 fase (Tidak Larut) hanya fenol dan asam asetat larut sempurna
B. SARAN
Sebaiknya sebelum pratikum dimulai, praktikan harus memahami prosedur kerja terlebih dahulu untuk menghindari kecelakaan kerja.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim.2011. penuntun dan laporan praktikum Kimia Organik. UMI. Makassar.
Ditjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta : Depkes RI.
Fessenden R.J dan J.S.Fessenden. 1986. Kimia Organik edisi 3 jilid 1. orth Publishers, INC, Belmont: USA.
Fessenden R.J dan J.S.Fessenden.1986. Kimia Organik edisi 3 jilid 2 .Worth Publishers, INC, Belmont: USA.
Marappung. 1987. Kimia Organik. Bandung : SHA Bandung.
Rasyid, Muhaidah. 1989. Kimia Organik 1. Badan Penerbit UNM : Makassar.
Sitorus, Marham. 2010. Kimia Organik . Graha Ilmu : Yokjakarta.
Suminar, Hart.1990. Kimia Organik Suatu Kuliah Singkat. Erlangga: Jakarta.
Langganan:
Postingan (Atom)









