Ass wrwb.
Do'a adalah senjata kaum muslimin. Para Nabi dan Rasul, para sahabat dan jg salafus shaleh telah mencontohkannya.
Do'a adlh senjata yg menyelamatkan Nabi Nuh as dgn diturunkannya air bah pd kaumnya.
Do'a jg senjata yg menyelamatkan nabi Musa as, ketika melawan tiran kala itu, Fir'aun.
Menyelamatkan nabi Shaleh dari kedzaliman kaum tsamud.
Menyelamatkan nabi Hud as, dari kaum Aad.
Menyelamatkan dan memberikan kemenangan kpd Rasulullah dlm banyak pertempuran yg beliau lakukan.
Kenalilah Allah dimasa lapang.
Dalam sebuah hadist, Rasulullah bersabda: "Kenalilah Allah dimasa lapang, niscaya Allah mengenalimu disaat kau menghadapi kesulitan."(HR.Tirmidzi)
"Barang siapa yg senang (ingin) Allah kabulkan do'anya disaat kesulitan dan genting, hendaknya memperbanyak do'a (ketika) disaat lapang." (HR.Tirmidzi dan Hakim).
Ingatlah selalu pada Allah (banyak berdzikir), banyak bersyukur atas segala nikmatNya, banyak beribadah, dan banyak do'a saat lapang atau senang. Insyaallah, disaat kita mengalami kesusahan dan kesempitan, Allah akan mengenali kita dan menolong kita.
Waktu dan tempat mustajab untuk berdo'a adlh:
1. Waktu antara adzan dan iqomah.
2. Didlm shalat.
3. Ketika berpuasa.
4. Di akhir malam.
5. Hari hari dibulan Ramadhan.
6. Sepuluh hari pertama dibulan Dzulhijah.
7. Pada hari Arafah.
8. Di medan perang.
9. Saat hujan turun.
10. Dan tempat tempat lain yg disebutkan dalam atsar.
Semoga bermanfaat.
Wass wrwb.
Baca artikel lainnya di
alianamaulana.blogspot.com
Sabtu, 17 Agustus 2013
Senin, 12 Agustus 2013
HIKMAH
Ass wrwb.
Setiap manusia pasti pernah mengalami masalah, ujian, cobaan. Terkadang kita merasa ujian itu amat berat, kadang juga ringan. Tapi ketahuilah, dibalik semua kejadian pasti ada hikmah.
Jangan berputus asa, apabila ada masalah. Hadapi dan teruslah berjuang. Berpikir positif, dan yakin bahwa semua pasti ada akhirnya.
Betapapun kau rasa berat menghadapinya, yakinlah...bahwa Allah akan senantiasa bersamamu.
Karena sesungguhnya, dengan masalah, justru membuat kita semakin dewasa, mengerti hidup, dan bisa meningktkan kwalitas keimanan kita.
Pada saat kita tertimpa masalah, kita akan selalu ingat pada Allah. Hal itu membuat kita, semakin dekat denganNya. Terkadang, Allah memberi kita ujian, kadang teguran, kadang juga musibah.
Semua itu sebenarnya adalah bukti kasih sayang Allah pada kita. Allah tidak ingin kita terlampau jauh dariNya.
Saat kita lalai, maka Allah mengingatkan kita dengan teguranNya.
Saat kita sudah terlampau jauh meninggalkanNya, Allah mendekatkan kita dengan cobaanNya.
Saat keimanan kita tangguh, Allah ingin mendengar kedekatankita, tangis kita dengan memberi kita ujian. Untuk lebih meningkatkan kwalitas keimanan kita.
Saudaraku...masihkah kita berputus asa, sementara dibelakang kita...selalu ada Allah yang menemani kita.
Mari...teruslah berjuang, bersemangat...meraih cinta Allah. Karena sesungguhnya...cinta Allah adalah cinta yang sesungguhnya. Cinta yg tak pernah luntur dan habis termakan usia.
Semoga bermanfaat.
Wass wrwb.
Penulis: ALIANA MAULANA
alianamaulana.blogspot.com
Cari artikel lainnya di blog saya. alianamaulana.blogspot.com
TRY TO DO THE BEST.
Setiap manusia pasti pernah mengalami masalah, ujian, cobaan. Terkadang kita merasa ujian itu amat berat, kadang juga ringan. Tapi ketahuilah, dibalik semua kejadian pasti ada hikmah.
Jangan berputus asa, apabila ada masalah. Hadapi dan teruslah berjuang. Berpikir positif, dan yakin bahwa semua pasti ada akhirnya.
Betapapun kau rasa berat menghadapinya, yakinlah...bahwa Allah akan senantiasa bersamamu.
Karena sesungguhnya, dengan masalah, justru membuat kita semakin dewasa, mengerti hidup, dan bisa meningktkan kwalitas keimanan kita.
Pada saat kita tertimpa masalah, kita akan selalu ingat pada Allah. Hal itu membuat kita, semakin dekat denganNya. Terkadang, Allah memberi kita ujian, kadang teguran, kadang juga musibah.
Semua itu sebenarnya adalah bukti kasih sayang Allah pada kita. Allah tidak ingin kita terlampau jauh dariNya.
Saat kita lalai, maka Allah mengingatkan kita dengan teguranNya.
Saat kita sudah terlampau jauh meninggalkanNya, Allah mendekatkan kita dengan cobaanNya.
Saat keimanan kita tangguh, Allah ingin mendengar kedekatankita, tangis kita dengan memberi kita ujian. Untuk lebih meningkatkan kwalitas keimanan kita.
Saudaraku...masihkah kita berputus asa, sementara dibelakang kita...selalu ada Allah yang menemani kita.
Mari...teruslah berjuang, bersemangat...meraih cinta Allah. Karena sesungguhnya...cinta Allah adalah cinta yang sesungguhnya. Cinta yg tak pernah luntur dan habis termakan usia.
Semoga bermanfaat.
Wass wrwb.
Penulis: ALIANA MAULANA
alianamaulana.blogspot.com
Cari artikel lainnya di blog saya. alianamaulana.blogspot.com
TRY TO DO THE BEST.
Kamis, 08 Agustus 2013
PUASA SYAWAL
Salah satu dari pintu-pintu kebaikan adalah melakukan puasa-puasa sunnah. Sebagaimana yang disabdakan Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam: “Maukah aku tunjukkan padamu pintu-pintu kebaikan?; Puasa adalah perisai, …” (Hadits hasan shohih, riwayat Tirmidzi). Puasa dalam hadits ini merupakan perisai bagi seorang muslim baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia, puasa adalah perisai dari perbuatan-perbuatan maksiat, sedangkan di akhirat nanti adalah perisai dari api neraka. Dalam sebuah hadits Qudsi disebutkan, “Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya.” (HR. Bukhori: 6502)
Puasa Seperti Setahun Penuh
Salah satu puasa yang dianjurkan/disunnahkan setelah berpuasa di bulan Romadhon adalah puasa enam hari di bulan Syawal. Puasa ini mempunyai keutamaan yang sangat istimewa. Dari Abu Ayyub Al Anshori, Rosululloh bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Romadhon kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164). Dari Tsauban, Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa berpuasa enam hari setelah hari raya Iedul Fitri, maka seperti berpuasa setahun penuh. Barangsiapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh lipatnya.” (HR. Ibnu Majah dan dishohihkan oleh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil). Imam Nawawi rohimahulloh mengatakan dalam Syarh Shohih Muslim 8/138, “Dalam hadits ini terdapat dalil yang jelas bagi madzhab Syafi’i, Ahmad, Dawud beserta ulama yang sependapat dengannya yaitu puasa enam hari di bulan Syawal adalah suatu hal yang dianjurkan.”
Dilakukan Setelah Iedul Fithri
Puasa Syawal dilakukan setelah Iedul Fithri, tidak boleh dilakukan di hari raya Iedul Fithri. Hal ini berdasarkan larangan Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan dari Umar bin Khothob, beliau berkata, “Ini adalah dua hari raya yang Rosululloh melarang berpuasa di hari tersebut: Hari raya Iedul Fithri setelah kalian berpuasa dan hari lainnya tatkala kalian makan daging korban kalian (Iedul Adha).” (Muttafaq ‘alaih)
Apakah Harus Berurutan ?
Imam Nawawi rohimahulloh menjawab dalam Syarh Shohih Muslim 8/328: “Afdholnya (lebih utama) adalah berpuasa enam hari berturut-turut langsung setelah Iedul Fithri. Namun jika ada orang yang berpuasa Syawal dengan tidak berturut-turut atau berpuasa di akhir-akhir bulan, maka dia masih mendapatkan keuatamaan puasa Syawal berdasarkan konteks hadits ini”. Inilah pendapat yang benar. Jadi, boleh berpuasa secara berturut-turut atau tidak, baik di awal, di tengah, maupun di akhir bulan Syawal. Sekalipun yang lebih utama adalah bersegera melakukannya berdasarkan dalil-dalil yang berisi tentang anjuran bersegera dalam beramal sholih. Sebagaimana Allah berfirman, “Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan.” (Al Maidah: 48). Dan juga dalam hadits tersebut terdapat lafadz ba’da fithri (setelah hari raya Iedul Fithri), yang menunjukkan selang waktu yang tidak lama.
Mendahulukan Puasa Qodho’
Apabila seseorang mempunyai tanggungan puasa (qodho’) sedangkan ia ingin berpuasa Syawal juga, manakah yang didahulukan? Pendapat yang benar adalah mendahulukan puasa qodho’. Sebab mendahulukan sesuatu yang wajib daripada sunnah itu lebih melepaskan diri dari beban kewajiban. Ibnu Rojab rohimahulloh berkata dalam Lathiiful Ma’arif, “Barangsiapa yang mempunyai tanggungan puasa Romadhon, hendaklah ia mendahulukan qodho’nya terlebih dahulu karena hal tersebut lebih melepaskan dirinya dari beban kewajiban dan hal itu (qodho’) lebih baik daripada puasa sunnah Syawal”. Pendapat ini juga disetujui oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin dalam Syarh Mumthi’. Pendapat ini sesuai dengan makna eksplisit hadits Abu Ayyub di atas.
Semoga kebahagiaan selalu mengiringi orang-orang yang menghidupkan sunnah Nabi Muhammad Shollallohu ‘alaihi wa sallam. Wallohu a’lam bish showab.
***
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id
Puasa Seperti Setahun Penuh
Salah satu puasa yang dianjurkan/disunnahkan setelah berpuasa di bulan Romadhon adalah puasa enam hari di bulan Syawal. Puasa ini mempunyai keutamaan yang sangat istimewa. Dari Abu Ayyub Al Anshori, Rosululloh bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Romadhon kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164). Dari Tsauban, Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa berpuasa enam hari setelah hari raya Iedul Fitri, maka seperti berpuasa setahun penuh. Barangsiapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh lipatnya.” (HR. Ibnu Majah dan dishohihkan oleh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil). Imam Nawawi rohimahulloh mengatakan dalam Syarh Shohih Muslim 8/138, “Dalam hadits ini terdapat dalil yang jelas bagi madzhab Syafi’i, Ahmad, Dawud beserta ulama yang sependapat dengannya yaitu puasa enam hari di bulan Syawal adalah suatu hal yang dianjurkan.”
Dilakukan Setelah Iedul Fithri
Puasa Syawal dilakukan setelah Iedul Fithri, tidak boleh dilakukan di hari raya Iedul Fithri. Hal ini berdasarkan larangan Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan dari Umar bin Khothob, beliau berkata, “Ini adalah dua hari raya yang Rosululloh melarang berpuasa di hari tersebut: Hari raya Iedul Fithri setelah kalian berpuasa dan hari lainnya tatkala kalian makan daging korban kalian (Iedul Adha).” (Muttafaq ‘alaih)
Apakah Harus Berurutan ?
Imam Nawawi rohimahulloh menjawab dalam Syarh Shohih Muslim 8/328: “Afdholnya (lebih utama) adalah berpuasa enam hari berturut-turut langsung setelah Iedul Fithri. Namun jika ada orang yang berpuasa Syawal dengan tidak berturut-turut atau berpuasa di akhir-akhir bulan, maka dia masih mendapatkan keuatamaan puasa Syawal berdasarkan konteks hadits ini”. Inilah pendapat yang benar. Jadi, boleh berpuasa secara berturut-turut atau tidak, baik di awal, di tengah, maupun di akhir bulan Syawal. Sekalipun yang lebih utama adalah bersegera melakukannya berdasarkan dalil-dalil yang berisi tentang anjuran bersegera dalam beramal sholih. Sebagaimana Allah berfirman, “Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan.” (Al Maidah: 48). Dan juga dalam hadits tersebut terdapat lafadz ba’da fithri (setelah hari raya Iedul Fithri), yang menunjukkan selang waktu yang tidak lama.
Mendahulukan Puasa Qodho’
Apabila seseorang mempunyai tanggungan puasa (qodho’) sedangkan ia ingin berpuasa Syawal juga, manakah yang didahulukan? Pendapat yang benar adalah mendahulukan puasa qodho’. Sebab mendahulukan sesuatu yang wajib daripada sunnah itu lebih melepaskan diri dari beban kewajiban. Ibnu Rojab rohimahulloh berkata dalam Lathiiful Ma’arif, “Barangsiapa yang mempunyai tanggungan puasa Romadhon, hendaklah ia mendahulukan qodho’nya terlebih dahulu karena hal tersebut lebih melepaskan dirinya dari beban kewajiban dan hal itu (qodho’) lebih baik daripada puasa sunnah Syawal”. Pendapat ini juga disetujui oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin dalam Syarh Mumthi’. Pendapat ini sesuai dengan makna eksplisit hadits Abu Ayyub di atas.
Semoga kebahagiaan selalu mengiringi orang-orang yang menghidupkan sunnah Nabi Muhammad Shollallohu ‘alaihi wa sallam. Wallohu a’lam bish showab.
***
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id
Selasa, 06 Agustus 2013
Diujung Ramadhan
Saat saat terakhir dibulan Ramadhan ini. Memberi kesan tersendiri bagiku. Seolah olah sesuatu yg ingin kurasakan selamanya, telah hilang dan pergi dariku.
Belum puas rasanya menikmati indahnya Ramadhan. Tp kini, masa itu akan pergi meninggalkanku.
Ya Allah...jadikanlah kerinduan ini, selamanya bersemayam dihatiku. Dan temukanlah kami kembali di Ramadhan tahun depan.
Selamat tinggal Ramadhan. Sampai jumpa lagi tahun depan. Semoga masih ada umur yg barokah untukku, sehingga bisa bertemu kembali denganmu.
Selamat Hari Raya Idhul Fitri 1434, Mohon maaf lahir dan bathin.
Belum puas rasanya menikmati indahnya Ramadhan. Tp kini, masa itu akan pergi meninggalkanku.
Ya Allah...jadikanlah kerinduan ini, selamanya bersemayam dihatiku. Dan temukanlah kami kembali di Ramadhan tahun depan.
Selamat tinggal Ramadhan. Sampai jumpa lagi tahun depan. Semoga masih ada umur yg barokah untukku, sehingga bisa bertemu kembali denganmu.
Selamat Hari Raya Idhul Fitri 1434, Mohon maaf lahir dan bathin.
Langganan:
Postingan (Atom)